Wirausaha Online

Wirausaha

Senin, 21 Maret 2011

Perspektif Sekolah Yang Mengkarbit Anak

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah "Industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai "operator kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi "pengabar isi buku pelajaran" ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor" capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran.

Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah… dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk.... Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif.

Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan "pedagogy of the oppressed" terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah dan persaingan ranking wilayah....

Penulis : Dewi Utama Faizah

Mengkompetensi Anak --- merupakan " KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?"

Anak adalah anugrah Tuhan... sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggung-jawab. "(Nature versus Nurture) bagaimana?" Karenanya ada dua pengertian kompetensi. Kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : "Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I'll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select -- doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of his talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors "

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan "intervensi dini" setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur "Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)" dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolumnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : "The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were... simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Jersey"

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah, semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif, fisik dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja! Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingin-tahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingin-tahuan - "curiosity" inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan! "Empty Sacks will never stand upright" --- George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, fisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan fisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari "karakter". Dimana mereka mendidik anak menjadi "good and smart", terang hati dan pikiran

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan "how learn to learn" pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa "Genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration ". Semangat belajar "encourage" tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan "moral literacy" melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik....

Penulis : Dewi Utama Faizah

Minggu, 20 Maret 2011

Kirim SMS Gratis

 berbagi link sms gratis...
Bagi teman-teman yang berkeinginan untuk sms gratis lewat internet, klik saja link-link di bawah ini
Semoga bermanfaat....

sms gratis 1:  MaZ WiWiD
sms gratis 2: http://cahyono.info/sms
sms gratis 3: kecoawap

tag : liat

Sabtu, 19 Maret 2011

Tips Atasi Kesulitan Menghafal Pelajaran Pd Anak

JR Anderson penulis buku Learning & Memory: An Integrated Approach, sekadar mengulang-ulang apa yang ingin kita ingat sebetulnya memang cara yang paling tidak efektif untuk menghafal karena hanya menggunakan sedikit bagian otak. Berikut ini Tips mengatasi kesulitan menghapal pada anak:

1. Buatlah pelajaran menjadi semenarik mungkin untuk anak. Gunakan daya imajinasi Anda untuk memberikan penjelasan yang kreatif. Misalnya dengan merangkai sebuah cerita, yang sebenarnya berisi tentang pelajaran yang harus dihapal. Usahakan agar emosi anak masuk dalam cerita tersebut, sehingga anak menjadi tertarik dan cepat hapal. Anda juga bisa mengajak si kecil berkunjung ke tempat-tempat wisata bersejarah seperti Kraton Yogyakarta, Candi Borobudur, dsb atau nonton film bertema/berlatar belakang epica/sejarah untuk memudahkan anak masuk dalm jalan cerita, misalnya Troy, Cut Nya Dien dsb (tentunya selalu Anda dampingi ketika ia sedang menontonnya), untuk mengenalkan dan menghafalkan pelajaran sejarah bangsa/dunia.

2. Pengulangan. Mintalah anak mengulangi materi yang Anda jelaskan dengan cara memintanya untuk menuliskan materi pada kertas, atau memintanya mengucapkan kembali apa yang telah dijelaskan. Pengulangan merupakan bagian yang penting dalam menghapal.

3. Lakukan praktek lapangan. Hal ini berguna untuk mengenalkan cara menghapal proses-proses alam seperti proses penguapan air (dengan memasak air), pencairan air (meletakan ES di tanah lapang), proses pertumbuhan tanaman (menanam tumbuhan hingga tumbuh kecambah biasanya kurang dari 1 minggu)

4. Kata Kunci. Buatlah kata kunci yang dapat membantu anak mengingat materi secara keseluruhan. Hal ini dilakukan terutama untuk materi yang memiliki banyak penjabaran atau memiliki banyak poin-poin panting. Buatlah kalimat-kalimat yang dapat menjembatani keseluruhan isi materi tersebut (metode jembatan keledai). Misalnya, buatlah kata-kata singkatan seperti mejingkuhibiniung untuk warna-warna pelangi merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.

5. Untuk menghapal berapa rumus, selain menulisnya besar-besar dalam sebuah whiteboard di rumah Anda, Anda bisa mengemasnya dalam bentuk permainan lintingan kertas yang di dalamnya berisi rumus-rumus, mintalah anak mengambilnya layaknya arisan, dan menebaknya sebagai rumus apa atau sebaliknya.

Dapatkan banyak tips di tipsanda.com

iklan

SALAM SAPA

Sahabat ini blog buat kita semua,,,mari saling berbagi nasihat,ilmu,dan berbagai hal yang menuntun kita agar hari ini lebih baik dari hari kemarin........Kali ini saya akan mencoba membagikan bagaimana mempersiapkan membuat proposal PTK......
UNTUK MENJADI GURU PROFESIONAL HARUS MEMAHAMI "PERMEN NO.16"
Salah satu tujuan diberikannya tunjangan sertifikasi guru adalah untuk meningkatkan keprofesionalan guru bukan semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Untuk menjadi guru yang profesional, guru harus mampu "makan permen no.16". Pada permen no.16 guru dituntut untuk memiliki empat kompetensi, yang salah satunya adalah kompetensi keprofesionalan dan dalam kompetensi tersebut guru dituntut untuk dapat melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Jadi, bila bapak/ibu guru ingin menjadi guru yang profeional maka konsekwensinya bapak/ibu guru harus mampu melakukan penelitian tindakan kelas. Yang artinya semua guru haruslah mampu melaksanakan PTK. Bila bapak/ibu guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas silahkan akses di internet untuk mencari informasi tentang PTK...
SILAHKAN DIDOWNLOD PROPOSAL PTK